Kamis, 11 Juli 2013

Buka Bersama di Lamin Pohon

Kamis, 11 Juli 2013, bertempat di Lamin Pohon, Kompleks V&W, Jl. PU III No.38, BAF mengadakan acara Buka Bersama sekaligus membicarakan beberapa rencana kegiatan.





Ada rencana untuk ikut meramaikan kegiatan berkesenian di Lanjong, Tenggarong, Kutai Kartanegara. Beberapa waktu sebelumnya, BAF vakum. Dan ini menjadi PR penting untuk dikerjakan sebagai komitmen berkesenian di Kalimantan Timur.

Rencana lainnya, menyelenggarakan Pameran Fotografi Tunggal Karya Aseng (Aseng Fotografi Studio). Mengenai ini, persiapan harus benar-benar dimatangkan karena ini nantinya termasuk pameran fotografi tunggal di Balikpapan.


Sedikit tentang Aseng dan bengkel fotografinya terpajang di http://kedaicangkirkopi.blogspot.com/2010/05/workshop-fotografi.html.


Balikpapan, 11 Juli 2013




Minggu, 07 Juli 2013

Ngobrol Bareng Aan Mansyur #2

Paul E. Siregar sedang berbagi pengalaman dengan Penyair Aan Mansyur dari Makassar seusai Malam Puisi Balikpapan #2, 07 Juli 2013, sekitar pkl.02.00 WITA di angkringan SIAGA, Gunung Malang.

Dari Kiri ke Kanan : Aan Mansyur, Paul E. Siregar, dan Lovie Gustian

Dari Kiri ke Kanan : Zia, Aan Mansyur, Paul E. Siregar, dan Lovie Gustian

Ngobrol Bareng Aan Mansyur #1

Paul E. Siregar sedang berbagi pengalaman dengan Penyair Aan Mansyur dari Makassar pada acara Malam Puisi Balikpapan #2, 06 Juli 2013, sekitar pkl.22.00 WITA di CafĂ© D’Wa, depan Swalayan Gajah Mada, Gunung Malang



Sabtu, 06 Juli 2013

Nonton Festival Film Jerman di Balikpapan *

Telah usai rangkaian Festival Film Jerman yang diselenggarakan di Balikpapan, tepatnya di Blitztheater. Pesta film yang terselenggara berkat kerjasama Goethe Institut dengan Dejavu Production, dan didukung Blitz. Selama 2 hari (26-27 Juni 2013) masyarakat Balikpapan disuguhi 8 film yang rata-rata menyabet penghargaan di negara asalnya, juga internasional. Pemutaran di Balikpapan adalah rangkaian dari acara yang juga diadakan di Jakarta, Medan, Bandung, Yogyakarta, Makassar, Surabaya dan Palu, dari 20 sampai 29 Juni 2013. Balikpapan mendapat keistimewaan, karena di Kalimantan, hanya kota ini yang disinggahi Goethe Institut.


Sungguh sebuah niat yang mulia ketika Gothe Institut memutar film-film bermutu dengan gratis/tanpa bayar. Sekali lagi GRATIS. Kerja keras panitia layak diacungi jempol karena pagelaran ini berlangsung dengan lancar tanpa kendala berarti demi menyajikan tontonan bagus, di tengah derasnya film Hollywood dan film nasional. Festival ini menyajikan rasa baru buat penonton Balikpapan. Acara ini juga seharusnya menyadarkan kita, betapa gersangnya produksi film Balikpapan, baik untuk layar lebar/bioskop maupun yang mandiri (indie).

Bukan kali ini saja penonton Balikpapan disuguhi film-film bermutu. Pada 2003, 2006 dan 2012 dihelat Festival Sinema Perancis/didukung Kedubes Perancis, yang menyuguhkan rangkaian film dengan rasa internasional dan mutu tinggi. Pada 2006, rangkaian pesta kesenian 'Kampoeng Seni', Dejavu, lewat sayapnya/Gambar Gerak, menyuguhkan film-film pendek mandiri produksi nasional selama 3 hari (15-17 September 2006) di kawasan Bandar, Klandasan. Selanjutnya Gambar Gerak – Dejavu beberapa kali mengadakan bengkel (workshop) film pendek dan menghasilkan beberapa film pendek karya sineas Balikpapan.

Bila membicarakan film buatan sineas Balikpapan, pada 2008 sebuah pesta film pendek skala nasional dengan judul 3 Cities dalam acara Short Film Festival diselenggarakan di Balikpapan. Tepatnya 22-23 Maret di bioskop Gelora Klandasan. Festival film pendek tersebut nerupakan kerjasama Boemboe Jakarta dengan Gambar Gerak – Dejavu Balikpapan.

Beberapa bulan sebelumnya Gambar Gerak - Dejavu telah mengadakan bengkel film pendek dan menghasilkan beberapa film. Kemudian disaring untuk diputar pada acara 3 Cities, yang juga memutar film pendek dari Banjarmasin, Pontianak, Jakarta, Cirebon, Purbalingga, Yogyakarta, Malang, Jember, dan Perancis.

Lewat acara tersebut, dari Balikpapan muncul film pendek 'Bias Kelam' besutan Afen Yani Sandi dan 'Shoes n' My Days' besutan Roy M. Siburian. Festival film yang, sekali lagi, gratis dan Balikpapan tidak hanya sebagai penonton/penikmat tetapi mampu menunjukkan kreasi atau hasil kesenian lewat film pendek/pembuat film. Lewat Balikpapan Art Festival 2008 penonton Balikpapan disuguhi film pendek karya seniman Balikpapan dan nasional oleh Balikpapan Art Foundation (BAF). Selama 3 hari (14-16 Agustus 2008) diputar 'Architecture is Our Playground' besutan 3 alumni Arsitektur Universitas Parahyangan Bandung, yang sebelumnya menjadi Finalis Indonesian Art Award 2008.

Sementara itu dari Balikpapan, Gambar Gerak – Dejavu menyuguhkan film pendek 'Slamet Berjuang', 'Bias Kelam', 'Cinta Tak Bermata', 'Shoes n' My Days', 'Botak', hasil dari Bengkel Film Pendek Fiksi mereka. 'Hutan Kota dan Lantung ', film dokumenter dari PADI Indonesia. 'Naga Beranak Naga' besutan Ariani Darmawan/Rumah Buku Kineruku, Bandung. 'Bumi Khayalan', 'Water From Heaven', 'No Clear', 'Jakarta Beda', dari Komunitas Dokumenter, Jakarta. Pesta film yang juga rangkaian dari pesta kesenian (pameran, dan pertunjukan seni) selama 3 hari di Ruko Bandar, Klandasan.

Jadi telah cukup banyak festival film, baik nasional maupun internasional, digelar di Balikpapan oleh pihak atau juga komunitas pecinta film yang dimotori Gambar Gerak – Dejavu Balikpapan. Festival Film Jerman yang baru saja lewat itu pun menyuguhkan cita rasa dan tema yang sangat beragam. Tema perang, cinta, penyakit, krisis jati diri, sepakbola dan kesedihan disajikan dengan teknik mumpuni sekaligus mengajak penonton merenung, lalu berdecak kagum akan keharuan yang timbul dari dialog dan olah gerak/akting selama film berlangsung.

Gegap-gempita estetika Jerman memenuhi studio 3 Blitztheater Balikpapan yang tidak penuh. Pesta film yang sangat ingar-bingar di tengah sepinya dunia film Balikpapan. Gemuruh seni tinggi dari Jerman menjejali kepala para penikmat film Balikpapan yang tidak seberapa banyak selama 2 hari.

Suguhan cita rasa tinggi yang gratis/tanpa bayar kurang diminati penonton Balikpapan, dengan beragam alasan. Ibaratnya, ketika seorang kawan berniat menjamu dengan makanan terbaik secara cuma-cuma tetapi kawan yang dijamu malah pilih-pilih.

Juga seiring dengan usainya tontonan bermutu dari Jerman, tersisa pertanyaan, kapan Balikpapan bisa menyuguhkan tontonan bermutu secara gratis lagi. Ketika para sineas Jerman dan sineas lain berpesta-pora lewat bahasa gambar dan gerak, sampai kapan Balikpapan menikmati menjadi penonton?

-oOo-

*) dimuat di harian Tribun Kaltim, 02 Juli 2013

Senin, 01 Juli 2013

Sekelompok Anak Muda Balikpapan yang Gelisah

Balikpapan Art Foundation (BAF) adalah sekumpulan anak muda yang sangat jenuh dengan keterbatasan visual dalam benak. Dengan bermain, kami ingin mencoba menciptakan sesuatu yang baru, menarik dan mengajak khalayak umum atau para penikmat seni di kota ini untuk sejenak berpikir dan mencoba meneruskan apa yang kami sajikan melalui Balikpapan Art Festival 2008 yang merupakan kelanjutan dari Kampoeng Seni 2006.

Setelah Kampoeng Seni 2006 yang dilaksanakan di Komplek Ruko Bandar Klandasan yang mengusung tema "Kampoeng Seni" dan melibatkan sejumlah seniman Balikpapan untuk berekpresi di sebuah ruang yang kami sebut sebagai kampoeng. Kampoeng Seni mungkin belum layak dikategorikan sebagai sebuah festival seni yang memberi kekhasan pada Balikpapan, maka kami sepakat untuk memberi nama "Balikpapan Art Festival"

Balikpapan Art Festival 2008 bertema "Ruang Publik Hijau", sebagai tempat interaksi yang terbuka untuk kegiatan apa saja termasuk seni. Balikpapan Art Festival terbagi atas 3 bagian acara yakni Pertunjukan Seni, Pameran Seni, Penjualan Karya dan Barang Seni, yang ditampilkan selama 3 hari.

Jumat, 28 Juni 2013

Festival Film Jerman di Balikpapan, 26-27 Juni 2013

Rangkaian pemutaran film di Blitztheater Balikpapan telah selesai. 8 film yang disuguhkan Goethe Institut yang diwakilkan oleh Lulu Ratna, dan bekerjasama dengan Dejavu Balikpapan, bisa dikatakan sangat berhasil. Berhasil dalam artian penyelenggaraan yang lancar, selama pemutaran hampir tidak ditemui kendala, kecuali ketika pemutaran hari ke-2, pada saat pemutaran salah satu film sempat hilang/lenyapnya suara beberapa detik ketika dialog. Tetapi bila dibandingkan dengan keseluruhan rangkaian acara, tidak mengurangi kesuksesan panitia memberikan tontonan bermutu tinggi kepada khalayak Balikpapan. Terimakasih buat kerja keras panitia.

Bila menilik dari katalog yang disuguhkan, sungguh beruntung masyarakat Balikpapan disuguhkan film-film yang menyabet banyak penghargaan, baik di negara asalnya, bahkan di tingkat internasional. This Ain't California/Ini Bukan Kalifornia, menyabet "Dialogue en perspective", Berlinale 2012, dan Film Dokumenter Terbaik, Festival Film Independen Cannes 2012. Film yang tentu saja sarat mutu. Film tersebut mengangkat persoalan/konflik yang sederhana pada awalnya. Pokok cerita adalah pencarian jati diri generasi muda/remaja di Jerman, ketika Jerman masih terbelah dua. Banyak mengambil latar belakang Jerman Timur, cerita dimulai dengan kegandrungan remaja kepada papan luncur/skate board.

Hal ini sebenarnya umum terjadi di belahan dunia manapun, ketika pertukaran informasi/berita semakin canggih. Pun di Balikpapan, banyak anak muda yang gandrung akan papan luncur. Biasanya banyak dijumpai ketika Minggu sore di sekitar Monumen Perjuangan Rakyat dan Lapangan Merdeka. Jadi soal kegandrungan akan papan luncur adalah hal yang menjadi lumrah di masyarakat di belahan dunia manapun.

Tetapi hal ini menjadi tidak sederhana di dalam film This Ain't California. Lewat potongan-potongan wawancara, diskusi/ngobrol, foto dan video dokumentasi, ditingkahi dengan animasi gafis/hitam-putih, papan luncur dan penggilanya, menjadi semakin 'gila' di Jerman Timur.

Sekelompok remaja, dengan tokoh yang menonjol Denis 'Panik' Paracek, menjadi anak muda yang berbeda, membangkang, nyeleneh di masyarakat pada saat itu. Bahkan ketegangan semakin tinggi ketika negara dengan latar belakang sosialis, menganggap mereka membangkang kepada negara. Sangat menarik ketika ditampilkan kegilaan anak muda tersebut dengan latar taman Aleksander. Liukan-liukan, lompat-melompati, dan banyak atraksi dengan papan luncur, sangat kontras/bertolak belakang dengan orang-orang di sekitarnya, yang cenderung diam, hanya memperhatikan. Dan secara visual, kekakuan beton, unsur utama taman Aleksander, justru menjadi arena yang sangat ideal buat papan luncur. Ciri khas taman Aleksander yang bersegi-segi/kaku, justru semakin memperkuat kesan kedinamisan para peluncur/skater. Secara pribadi, visualisasi/tayangan di taman Aleksander adalah yang terbaik dari keseluruhan film ini.

Tempo dan ketegangan semakin kuat ketika Panik dan kelompoknya mulai menularkan papan luncur kepada anak muda lainnya, alias mulai menemukan teman-teman sejenis. Dari kelompok kecil, mereka mulai menjadi kelompok besar/komunitas. Tentu saja dengan kegilaan yang bertambah dan kenakalan khas remaja. Mabuk,senggama dan keisengan yang menjurus kekerasan menjadi gambaran utama kalangan ini. Walaupun mereka juga mulai mengikuti lomba yang diadakan sesama penggila papan luncur. Bahkan beberapa diantara mereka digambarkan mulai memetik keuntungan ekonomi dari semakin banyaknya peluncur/skater. Beberapa juga mulai mencoba berbagai macam trik baru.

Film dokumenter setengah fiksi ini menyajikan rangkaian cerita yang sarat pesan. Dari kegiatan anak muda yang dianggap membangkang, bermain papan luncur, lalu mulai berlomba, antarkelompok, antarwilayah, bahkan antarnegara. Selepas paruh film, penonton diajak untuk melihat dan merenungkan, bahwa lewat papan luncur, anak-anak muda ini membangun kerjasama, dialog antara Jerman Timur dan Jerman Barat. Anak-anak muda yang dicap brengsek, pada akhirnya justru menjadi ujung tombak dari pembaharuan di Jerman Timur. Mereka ikut memelopori pertukaran informasi dan budaya. Bahkan mereka bisa dikatakan turut memajukan Jerman Timur.

Hal yang tidak terpikirkan oleh anggota masyarakat lainnya. Bahkan sang tokoh utama, 'Panik' ditangkap oleh pihak berwenang, dan sejurus kemudian dia pun lenyap, tenggelam dalam hingar-bingar penyatuan Jerman, atau diruntuhkannya tembok yang membelah kota Berlin. Film dipenuhi dengan potongan-potongan dokumentasi kejadian dunia pada masa itu, dari aksi demonstrasi/unjuk rasa, peluncuran pesawat ulang-alik, peperangan, kelaparan, bahkan hingga presiden Amerika Serikat ketika itu (Bill Clinton) berpidato. Kegempitaan kelompok 'Panik' ditelan gemuruh runtuhnya tembok Berlin.

Mendekati akhir film, suasana semakin syahdu dengan adegan dimana 'Panik' gugur dalam pertempuran di Afganistan. Lewat gambar hitam-putih, sutradara mencoba reka ulang adegan ketika 'Panik' (sengaja) tertembak dalam pertempuran. Dan film pun usai.

Senin, 24 Juni 2013

Malam Puisi Balikpapan #1, Sabtu, 23 Juni 2013, 20.00 WITA, Cafe D'WA

Selamat,akhirnya ada malam yang tidak seperti malam-malam sebelumnya..

Sungguh baru dan bermutu...Seru..Semoga subur..