Jumat, 28 Juni 2013

Festival Film Jerman di Balikpapan, 26-27 Juni 2013

Rangkaian pemutaran film di Blitztheater Balikpapan telah selesai. 8 film yang disuguhkan Goethe Institut yang diwakilkan oleh Lulu Ratna, dan bekerjasama dengan Dejavu Balikpapan, bisa dikatakan sangat berhasil. Berhasil dalam artian penyelenggaraan yang lancar, selama pemutaran hampir tidak ditemui kendala, kecuali ketika pemutaran hari ke-2, pada saat pemutaran salah satu film sempat hilang/lenyapnya suara beberapa detik ketika dialog. Tetapi bila dibandingkan dengan keseluruhan rangkaian acara, tidak mengurangi kesuksesan panitia memberikan tontonan bermutu tinggi kepada khalayak Balikpapan. Terimakasih buat kerja keras panitia.

Bila menilik dari katalog yang disuguhkan, sungguh beruntung masyarakat Balikpapan disuguhkan film-film yang menyabet banyak penghargaan, baik di negara asalnya, bahkan di tingkat internasional. This Ain't California/Ini Bukan Kalifornia, menyabet "Dialogue en perspective", Berlinale 2012, dan Film Dokumenter Terbaik, Festival Film Independen Cannes 2012. Film yang tentu saja sarat mutu. Film tersebut mengangkat persoalan/konflik yang sederhana pada awalnya. Pokok cerita adalah pencarian jati diri generasi muda/remaja di Jerman, ketika Jerman masih terbelah dua. Banyak mengambil latar belakang Jerman Timur, cerita dimulai dengan kegandrungan remaja kepada papan luncur/skate board.

Hal ini sebenarnya umum terjadi di belahan dunia manapun, ketika pertukaran informasi/berita semakin canggih. Pun di Balikpapan, banyak anak muda yang gandrung akan papan luncur. Biasanya banyak dijumpai ketika Minggu sore di sekitar Monumen Perjuangan Rakyat dan Lapangan Merdeka. Jadi soal kegandrungan akan papan luncur adalah hal yang menjadi lumrah di masyarakat di belahan dunia manapun.

Tetapi hal ini menjadi tidak sederhana di dalam film This Ain't California. Lewat potongan-potongan wawancara, diskusi/ngobrol, foto dan video dokumentasi, ditingkahi dengan animasi gafis/hitam-putih, papan luncur dan penggilanya, menjadi semakin 'gila' di Jerman Timur.

Sekelompok remaja, dengan tokoh yang menonjol Denis 'Panik' Paracek, menjadi anak muda yang berbeda, membangkang, nyeleneh di masyarakat pada saat itu. Bahkan ketegangan semakin tinggi ketika negara dengan latar belakang sosialis, menganggap mereka membangkang kepada negara. Sangat menarik ketika ditampilkan kegilaan anak muda tersebut dengan latar taman Aleksander. Liukan-liukan, lompat-melompati, dan banyak atraksi dengan papan luncur, sangat kontras/bertolak belakang dengan orang-orang di sekitarnya, yang cenderung diam, hanya memperhatikan. Dan secara visual, kekakuan beton, unsur utama taman Aleksander, justru menjadi arena yang sangat ideal buat papan luncur. Ciri khas taman Aleksander yang bersegi-segi/kaku, justru semakin memperkuat kesan kedinamisan para peluncur/skater. Secara pribadi, visualisasi/tayangan di taman Aleksander adalah yang terbaik dari keseluruhan film ini.

Tempo dan ketegangan semakin kuat ketika Panik dan kelompoknya mulai menularkan papan luncur kepada anak muda lainnya, alias mulai menemukan teman-teman sejenis. Dari kelompok kecil, mereka mulai menjadi kelompok besar/komunitas. Tentu saja dengan kegilaan yang bertambah dan kenakalan khas remaja. Mabuk,senggama dan keisengan yang menjurus kekerasan menjadi gambaran utama kalangan ini. Walaupun mereka juga mulai mengikuti lomba yang diadakan sesama penggila papan luncur. Bahkan beberapa diantara mereka digambarkan mulai memetik keuntungan ekonomi dari semakin banyaknya peluncur/skater. Beberapa juga mulai mencoba berbagai macam trik baru.

Film dokumenter setengah fiksi ini menyajikan rangkaian cerita yang sarat pesan. Dari kegiatan anak muda yang dianggap membangkang, bermain papan luncur, lalu mulai berlomba, antarkelompok, antarwilayah, bahkan antarnegara. Selepas paruh film, penonton diajak untuk melihat dan merenungkan, bahwa lewat papan luncur, anak-anak muda ini membangun kerjasama, dialog antara Jerman Timur dan Jerman Barat. Anak-anak muda yang dicap brengsek, pada akhirnya justru menjadi ujung tombak dari pembaharuan di Jerman Timur. Mereka ikut memelopori pertukaran informasi dan budaya. Bahkan mereka bisa dikatakan turut memajukan Jerman Timur.

Hal yang tidak terpikirkan oleh anggota masyarakat lainnya. Bahkan sang tokoh utama, 'Panik' ditangkap oleh pihak berwenang, dan sejurus kemudian dia pun lenyap, tenggelam dalam hingar-bingar penyatuan Jerman, atau diruntuhkannya tembok yang membelah kota Berlin. Film dipenuhi dengan potongan-potongan dokumentasi kejadian dunia pada masa itu, dari aksi demonstrasi/unjuk rasa, peluncuran pesawat ulang-alik, peperangan, kelaparan, bahkan hingga presiden Amerika Serikat ketika itu (Bill Clinton) berpidato. Kegempitaan kelompok 'Panik' ditelan gemuruh runtuhnya tembok Berlin.

Mendekati akhir film, suasana semakin syahdu dengan adegan dimana 'Panik' gugur dalam pertempuran di Afganistan. Lewat gambar hitam-putih, sutradara mencoba reka ulang adegan ketika 'Panik' (sengaja) tertembak dalam pertempuran. Dan film pun usai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar