Kali ini hampir habis dayaku *singasong, hi there! setelah mengunjungi situs www.balikpapanartfoaundation.blogspot.com, saya mencoba menelaah dan menoleh kembali ingatan lima tahun yang lalu. Naluriah, sifat dasar manusia yang mencari sekutu untuk memperkuat minat dan kesukaan. Organisasi seni dan budaya di Balikpapan hingga saat ini masih bisa dihitung dengan jari.
Lahirnya Balikpapan Art Foundation, merupakan salah satu perwujudan konkrit dimasa kejayaannya. Masih teramat jelas dalam ingatan saya, mengapa kami yang dulu mengaku anak muda dan hingga kini masih merasa sangat muda (hihihi..), memberanikan diri serius dalam percaturan seni dan budaya di kota Balikpapan.
Mengapa dikatakan serius, artinya organisasi ini dilegalkan dalam surat akte notaris semata untuk menyelamatkan beberapa pemikiran yang berasal dari diskusi para anggotanya. Berpikir kedepan, bagaimana organisasi ini nantinya mampu mewadahi kinerja seni dan mengapresiasikannya untuk negeri.
Merunut sejarah terbentuknya komunitas BAF di kota Balikpapan, awalnya tidak hanya bicara tentang dukungan terhadap geliat seni dan budaya di Balikpapan, tapi ketidakperdulian dari pihak-pihak yang seharusnya peduli inilah merupakan babak yang paling menggemaskan. Dengan mudah saya berbicara seperti ini, karena saya (kala itu) juga menjadi salah satu dari anak muda yang gelisah, turut membidani lahirnya BAF, en..ga kerasa sekarang si BAF udah berusia lima tahun.
Nah..dewasa ini, kota Balikpapan yang terkenal dengan slogan kota jasa dan perdagangan mulai dilirik oleh sejuta investor diluar sana, keanekaragaman budaya akibat pergerakan manusia ini membuat saya tidak berputus asa untuk menjadikan seni dan budaya sebagai salah satu nilai baik dari kota ini. Saya memang bukan seniman, tapi saya penikmat seni, kerjaan saya hanya menulis dan menulis apa yang saya lihat dan rasakan.
Mimpi muluk BAF saya nilai masih realistis, terlebih semakin banyak dukungan dari sebagian warga Balikpapan untuk tetap memberi ruang dalam kesehariannya bagi kemajuan seni dan budaya di kota ini. Buktinya? asupan-asupan berupa pertunjukan or pameran seni masih tumbuh meskipun tidak sesubur kawasan industri atau mall yang ada di kota ini. Kalau tidak salah, saya ingin menyadur kalimat dari Om Budiman Hakim, salah seorang praktisi periklan yang kondang di negeri ini, seniman itu sejenis mahkluk yang paling sensitif di dunia hehe.., dalam penerapannya seni itu lahir dari pegulatan pribadi atau interkasi di sekitarnya, yang biasanya menghasilkan ide baru atau bahasa kerennya kreatifitas dengan menggunakan media apa saja.
Alangkah indahnya, kalau Balikpapan bisa memproduksi beberapa seniman atau pekerja seni handal yang bisa mempopulerkan dan mengedukasi kota lainnya di Kaltim, atau bahkan kancah nasional dan internasional melalui karyanya, hal ini bukan tidak mungkin apabila memang ada wadah yang mendukung ide kecil menjadi sesuatu yang besar..ya kan???
Menurut hemat saya, pekerja seni juga memperkaya sejarah, dengan media yang nyata, mereka mampu menggambarkan kehidupan sosial dari masa ke masa. Kedua, irisan dari kegelisahan ini juga mampu menjadi puzzle yang secara random mencerminkan budaya lokal. Ini kesimpulan sepihak dari saya, pasalnya jika saya membaca buku-buku karya orang Jepang misalnya, dari beberapa pengarangnya saya bisa mengambil garis merah, bahwa kemajuan tekhnologi yang pesat di negeri matahari ini ternyata berdampak pada kesepian yang luar biasa dasyatnya.
Manusia perlu eksistensi dalam merekam waktu, merekam kejadian atau peristiwa yang diwujudkan entah dalam bentuk yang sederhana atau aneh sekalipun, orang-orang yang memiliki bakatlah yang diharapkan bisa mengabadikan semua itu dalam sebuah karya. Tentunya, karya yang bisa merubah dunia, menggugah pemikiran dan menjadikan dunia lebih baik. Semoga BAF bisa menjadi salah satu jembatan untuk menjadikan Balikpapan sedikit berbeda dari pencitraan yang selama ini terbentuk, setidaknya ada pilihan beragam dari nilai kesukaan untuk generasi muda dalam membesarkan industri seni di Balikpapan.
Selamat Ulang Tahun yang ke-5 untuk BAF..bravo!
Media Informasi & Komunikasi Online Seputar Kegiatan Balikpapan Art Foundation
Jumat, 19 Juli 2013
Minggu, 14 Juli 2013
BERBAGI 1000 SENYUM
Sport and Convention Centre DOME, Balikpapan, Minggu, 14 Juli 2013, pkl. 18.00 WITA Ketua BAF Paul E. Siregar terlibat dalam kegiatan BERBAGI 1000 SENYUM, yaitu acara buka bersama dengan panti-panti asuhan se-Balikpapan.
Acara ini diselenggarakan oleh berbagai komunitas orang muda Balikpapan untuk berbagi dalam rangka Bulan Ramadhan.
Pada kesempatan yang sama, Paul E. Siregar (paling kiri) berdiskusi sejenak dengan aktivis pecinta alam dari komunitas Padi Balikpapan, Ismail Arrasyid atau dipanggil Mail (sebelah kiri Paul), di beranda belakang Dome. Tentang gunung-gunung di Kalimantan Timur, semisal Liangpran di daerah hulu Mahakam. Tentang keterlibatan Mail dalam pemberdayaan masyarakat kampung pedalaman dalam rangka menolak agresi perusahaan kelapa sawit asing, yaitu melalui penyuluhan mengenai lingkungan, batas-batas lingkungan, dan lain-lain.
Selain itu, Mail juga membuat blog sebagai salah satu usahanya untuk memajang hasil perjelajahannya. Blog tersebut adalah www. kisahanakgawah.blogspot.com
Acara ini diselenggarakan oleh berbagai komunitas orang muda Balikpapan untuk berbagi dalam rangka Bulan Ramadhan.
Pada kesempatan yang sama, Paul E. Siregar (paling kiri) berdiskusi sejenak dengan aktivis pecinta alam dari komunitas Padi Balikpapan, Ismail Arrasyid atau dipanggil Mail (sebelah kiri Paul), di beranda belakang Dome. Tentang gunung-gunung di Kalimantan Timur, semisal Liangpran di daerah hulu Mahakam. Tentang keterlibatan Mail dalam pemberdayaan masyarakat kampung pedalaman dalam rangka menolak agresi perusahaan kelapa sawit asing, yaitu melalui penyuluhan mengenai lingkungan, batas-batas lingkungan, dan lain-lain.
Selain itu, Mail juga membuat blog sebagai salah satu usahanya untuk memajang hasil perjelajahannya. Blog tersebut adalah www. kisahanakgawah.blogspot.com
Kamis, 11 Juli 2013
Buka Bersama di Lamin Pohon
Kamis, 11 Juli 2013, bertempat di Lamin Pohon, Kompleks V&W, Jl. PU III No.38, BAF mengadakan acara Buka Bersama sekaligus membicarakan beberapa rencana kegiatan.
Ada rencana untuk ikut meramaikan kegiatan berkesenian di Lanjong, Tenggarong, Kutai Kartanegara. Beberapa waktu sebelumnya, BAF vakum. Dan ini menjadi PR penting untuk dikerjakan sebagai komitmen berkesenian di Kalimantan Timur.
Rencana lainnya, menyelenggarakan Pameran Fotografi Tunggal Karya Aseng (Aseng Fotografi Studio). Mengenai ini, persiapan harus benar-benar dimatangkan karena ini nantinya termasuk pameran fotografi tunggal di Balikpapan.
Sedikit tentang Aseng dan bengkel fotografinya terpajang di http://kedaicangkirkopi.blogspot.com/2010/05/workshop-fotografi.html.
Balikpapan, 11 Juli 2013
Ada rencana untuk ikut meramaikan kegiatan berkesenian di Lanjong, Tenggarong, Kutai Kartanegara. Beberapa waktu sebelumnya, BAF vakum. Dan ini menjadi PR penting untuk dikerjakan sebagai komitmen berkesenian di Kalimantan Timur.
Rencana lainnya, menyelenggarakan Pameran Fotografi Tunggal Karya Aseng (Aseng Fotografi Studio). Mengenai ini, persiapan harus benar-benar dimatangkan karena ini nantinya termasuk pameran fotografi tunggal di Balikpapan.
Sedikit tentang Aseng dan bengkel fotografinya terpajang di http://kedaicangkirkopi.blogspot.com/2010/05/workshop-fotografi.html.
Balikpapan, 11 Juli 2013
Minggu, 07 Juli 2013
Ngobrol Bareng Aan Mansyur #2
Paul E. Siregar sedang berbagi pengalaman dengan Penyair Aan Mansyur dari Makassar seusai Malam Puisi Balikpapan #2, 07 Juli 2013, sekitar pkl.02.00 WITA di angkringan SIAGA, Gunung Malang.
Dari Kiri ke Kanan : Aan Mansyur, Paul E. Siregar, dan Lovie Gustian
Dari Kiri ke Kanan : Zia, Aan Mansyur, Paul E. Siregar, dan Lovie Gustian
Dari Kiri ke Kanan : Aan Mansyur, Paul E. Siregar, dan Lovie Gustian
Dari Kiri ke Kanan : Zia, Aan Mansyur, Paul E. Siregar, dan Lovie Gustian
Ngobrol Bareng Aan Mansyur #1
Paul E. Siregar sedang berbagi pengalaman dengan Penyair Aan Mansyur dari Makassar pada acara Malam Puisi Balikpapan #2, 06 Juli 2013, sekitar pkl.22.00 WITA di CafĂ© D’Wa, depan Swalayan Gajah Mada, Gunung Malang
Sabtu, 06 Juli 2013
Nonton Festival Film Jerman di Balikpapan *
Telah usai rangkaian Festival Film Jerman yang diselenggarakan di Balikpapan, tepatnya di Blitztheater. Pesta film yang terselenggara berkat kerjasama Goethe Institut dengan Dejavu Production, dan didukung Blitz. Selama 2 hari (26-27 Juni 2013) masyarakat Balikpapan disuguhi 8 film yang rata-rata menyabet penghargaan di negara asalnya, juga internasional. Pemutaran di Balikpapan adalah rangkaian dari acara yang juga diadakan di Jakarta, Medan, Bandung, Yogyakarta, Makassar, Surabaya dan Palu, dari 20 sampai 29 Juni 2013. Balikpapan mendapat keistimewaan, karena di Kalimantan, hanya kota ini yang disinggahi Goethe Institut.
Sungguh sebuah niat yang mulia ketika Gothe Institut memutar film-film bermutu dengan gratis/tanpa bayar. Sekali lagi GRATIS. Kerja keras panitia layak diacungi jempol karena pagelaran ini berlangsung dengan lancar tanpa kendala berarti demi menyajikan tontonan bagus, di tengah derasnya film Hollywood dan film nasional. Festival ini menyajikan rasa baru buat penonton Balikpapan. Acara ini juga seharusnya menyadarkan kita, betapa gersangnya produksi film Balikpapan, baik untuk layar lebar/bioskop maupun yang mandiri (indie).
Bukan kali ini saja penonton Balikpapan disuguhi film-film bermutu. Pada 2003, 2006 dan 2012 dihelat Festival Sinema Perancis/didukung Kedubes Perancis, yang menyuguhkan rangkaian film dengan rasa internasional dan mutu tinggi. Pada 2006, rangkaian pesta kesenian 'Kampoeng Seni', Dejavu, lewat sayapnya/Gambar Gerak, menyuguhkan film-film pendek mandiri produksi nasional selama 3 hari (15-17 September 2006) di kawasan Bandar, Klandasan. Selanjutnya Gambar Gerak – Dejavu beberapa kali mengadakan bengkel (workshop) film pendek dan menghasilkan beberapa film pendek karya sineas Balikpapan.
Bila membicarakan film buatan sineas Balikpapan, pada 2008 sebuah pesta film pendek skala nasional dengan judul 3 Cities dalam acara Short Film Festival diselenggarakan di Balikpapan. Tepatnya 22-23 Maret di bioskop Gelora Klandasan. Festival film pendek tersebut nerupakan kerjasama Boemboe Jakarta dengan Gambar Gerak – Dejavu Balikpapan.
Beberapa bulan sebelumnya Gambar Gerak - Dejavu telah mengadakan bengkel film pendek dan menghasilkan beberapa film. Kemudian disaring untuk diputar pada acara 3 Cities, yang juga memutar film pendek dari Banjarmasin, Pontianak, Jakarta, Cirebon, Purbalingga, Yogyakarta, Malang, Jember, dan Perancis.
Lewat acara tersebut, dari Balikpapan muncul film pendek 'Bias Kelam' besutan Afen Yani Sandi dan 'Shoes n' My Days' besutan Roy M. Siburian. Festival film yang, sekali lagi, gratis dan Balikpapan tidak hanya sebagai penonton/penikmat tetapi mampu menunjukkan kreasi atau hasil kesenian lewat film pendek/pembuat film. Lewat Balikpapan Art Festival 2008 penonton Balikpapan disuguhi film pendek karya seniman Balikpapan dan nasional oleh Balikpapan Art Foundation (BAF). Selama 3 hari (14-16 Agustus 2008) diputar 'Architecture is Our Playground' besutan 3 alumni Arsitektur Universitas Parahyangan Bandung, yang sebelumnya menjadi Finalis Indonesian Art Award 2008.
Sementara itu dari Balikpapan, Gambar Gerak – Dejavu menyuguhkan film pendek 'Slamet Berjuang', 'Bias Kelam', 'Cinta Tak Bermata', 'Shoes n' My Days', 'Botak', hasil dari Bengkel Film Pendek Fiksi mereka. 'Hutan Kota dan Lantung ', film dokumenter dari PADI Indonesia. 'Naga Beranak Naga' besutan Ariani Darmawan/Rumah Buku Kineruku, Bandung. 'Bumi Khayalan', 'Water From Heaven', 'No Clear', 'Jakarta Beda', dari Komunitas Dokumenter, Jakarta. Pesta film yang juga rangkaian dari pesta kesenian (pameran, dan pertunjukan seni) selama 3 hari di Ruko Bandar, Klandasan.
Jadi telah cukup banyak festival film, baik nasional maupun internasional, digelar di Balikpapan oleh pihak atau juga komunitas pecinta film yang dimotori Gambar Gerak – Dejavu Balikpapan. Festival Film Jerman yang baru saja lewat itu pun menyuguhkan cita rasa dan tema yang sangat beragam. Tema perang, cinta, penyakit, krisis jati diri, sepakbola dan kesedihan disajikan dengan teknik mumpuni sekaligus mengajak penonton merenung, lalu berdecak kagum akan keharuan yang timbul dari dialog dan olah gerak/akting selama film berlangsung.
Gegap-gempita estetika Jerman memenuhi studio 3 Blitztheater Balikpapan yang tidak penuh. Pesta film yang sangat ingar-bingar di tengah sepinya dunia film Balikpapan. Gemuruh seni tinggi dari Jerman menjejali kepala para penikmat film Balikpapan yang tidak seberapa banyak selama 2 hari.
Suguhan cita rasa tinggi yang gratis/tanpa bayar kurang diminati penonton Balikpapan, dengan beragam alasan. Ibaratnya, ketika seorang kawan berniat menjamu dengan makanan terbaik secara cuma-cuma tetapi kawan yang dijamu malah pilih-pilih.
Juga seiring dengan usainya tontonan bermutu dari Jerman, tersisa pertanyaan, kapan Balikpapan bisa menyuguhkan tontonan bermutu secara gratis lagi. Ketika para sineas Jerman dan sineas lain berpesta-pora lewat bahasa gambar dan gerak, sampai kapan Balikpapan menikmati menjadi penonton?
-oOo-
*) dimuat di harian Tribun Kaltim, 02 Juli 2013
Sungguh sebuah niat yang mulia ketika Gothe Institut memutar film-film bermutu dengan gratis/tanpa bayar. Sekali lagi GRATIS. Kerja keras panitia layak diacungi jempol karena pagelaran ini berlangsung dengan lancar tanpa kendala berarti demi menyajikan tontonan bagus, di tengah derasnya film Hollywood dan film nasional. Festival ini menyajikan rasa baru buat penonton Balikpapan. Acara ini juga seharusnya menyadarkan kita, betapa gersangnya produksi film Balikpapan, baik untuk layar lebar/bioskop maupun yang mandiri (indie).
Bukan kali ini saja penonton Balikpapan disuguhi film-film bermutu. Pada 2003, 2006 dan 2012 dihelat Festival Sinema Perancis/didukung Kedubes Perancis, yang menyuguhkan rangkaian film dengan rasa internasional dan mutu tinggi. Pada 2006, rangkaian pesta kesenian 'Kampoeng Seni', Dejavu, lewat sayapnya/Gambar Gerak, menyuguhkan film-film pendek mandiri produksi nasional selama 3 hari (15-17 September 2006) di kawasan Bandar, Klandasan. Selanjutnya Gambar Gerak – Dejavu beberapa kali mengadakan bengkel (workshop) film pendek dan menghasilkan beberapa film pendek karya sineas Balikpapan.
Bila membicarakan film buatan sineas Balikpapan, pada 2008 sebuah pesta film pendek skala nasional dengan judul 3 Cities dalam acara Short Film Festival diselenggarakan di Balikpapan. Tepatnya 22-23 Maret di bioskop Gelora Klandasan. Festival film pendek tersebut nerupakan kerjasama Boemboe Jakarta dengan Gambar Gerak – Dejavu Balikpapan.
Beberapa bulan sebelumnya Gambar Gerak - Dejavu telah mengadakan bengkel film pendek dan menghasilkan beberapa film. Kemudian disaring untuk diputar pada acara 3 Cities, yang juga memutar film pendek dari Banjarmasin, Pontianak, Jakarta, Cirebon, Purbalingga, Yogyakarta, Malang, Jember, dan Perancis.
Lewat acara tersebut, dari Balikpapan muncul film pendek 'Bias Kelam' besutan Afen Yani Sandi dan 'Shoes n' My Days' besutan Roy M. Siburian. Festival film yang, sekali lagi, gratis dan Balikpapan tidak hanya sebagai penonton/penikmat tetapi mampu menunjukkan kreasi atau hasil kesenian lewat film pendek/pembuat film. Lewat Balikpapan Art Festival 2008 penonton Balikpapan disuguhi film pendek karya seniman Balikpapan dan nasional oleh Balikpapan Art Foundation (BAF). Selama 3 hari (14-16 Agustus 2008) diputar 'Architecture is Our Playground' besutan 3 alumni Arsitektur Universitas Parahyangan Bandung, yang sebelumnya menjadi Finalis Indonesian Art Award 2008.
Sementara itu dari Balikpapan, Gambar Gerak – Dejavu menyuguhkan film pendek 'Slamet Berjuang', 'Bias Kelam', 'Cinta Tak Bermata', 'Shoes n' My Days', 'Botak', hasil dari Bengkel Film Pendek Fiksi mereka. 'Hutan Kota dan Lantung ', film dokumenter dari PADI Indonesia. 'Naga Beranak Naga' besutan Ariani Darmawan/Rumah Buku Kineruku, Bandung. 'Bumi Khayalan', 'Water From Heaven', 'No Clear', 'Jakarta Beda', dari Komunitas Dokumenter, Jakarta. Pesta film yang juga rangkaian dari pesta kesenian (pameran, dan pertunjukan seni) selama 3 hari di Ruko Bandar, Klandasan.
Jadi telah cukup banyak festival film, baik nasional maupun internasional, digelar di Balikpapan oleh pihak atau juga komunitas pecinta film yang dimotori Gambar Gerak – Dejavu Balikpapan. Festival Film Jerman yang baru saja lewat itu pun menyuguhkan cita rasa dan tema yang sangat beragam. Tema perang, cinta, penyakit, krisis jati diri, sepakbola dan kesedihan disajikan dengan teknik mumpuni sekaligus mengajak penonton merenung, lalu berdecak kagum akan keharuan yang timbul dari dialog dan olah gerak/akting selama film berlangsung.
Gegap-gempita estetika Jerman memenuhi studio 3 Blitztheater Balikpapan yang tidak penuh. Pesta film yang sangat ingar-bingar di tengah sepinya dunia film Balikpapan. Gemuruh seni tinggi dari Jerman menjejali kepala para penikmat film Balikpapan yang tidak seberapa banyak selama 2 hari.
Suguhan cita rasa tinggi yang gratis/tanpa bayar kurang diminati penonton Balikpapan, dengan beragam alasan. Ibaratnya, ketika seorang kawan berniat menjamu dengan makanan terbaik secara cuma-cuma tetapi kawan yang dijamu malah pilih-pilih.
Juga seiring dengan usainya tontonan bermutu dari Jerman, tersisa pertanyaan, kapan Balikpapan bisa menyuguhkan tontonan bermutu secara gratis lagi. Ketika para sineas Jerman dan sineas lain berpesta-pora lewat bahasa gambar dan gerak, sampai kapan Balikpapan menikmati menjadi penonton?
-oOo-
*) dimuat di harian Tribun Kaltim, 02 Juli 2013
Senin, 01 Juli 2013
Sekelompok Anak Muda Balikpapan yang Gelisah
Balikpapan Art Foundation (BAF) adalah sekumpulan anak muda yang sangat jenuh dengan keterbatasan visual dalam benak. Dengan bermain, kami ingin mencoba menciptakan sesuatu yang baru, menarik dan mengajak khalayak umum atau para penikmat seni di kota ini untuk sejenak berpikir dan mencoba meneruskan apa yang kami sajikan melalui Balikpapan Art Festival 2008 yang merupakan kelanjutan dari Kampoeng Seni 2006.
Setelah Kampoeng Seni 2006 yang dilaksanakan di Komplek Ruko Bandar Klandasan yang mengusung tema "Kampoeng Seni" dan melibatkan sejumlah seniman Balikpapan untuk berekpresi di sebuah ruang yang kami sebut sebagai kampoeng. Kampoeng Seni mungkin belum layak dikategorikan sebagai sebuah festival seni yang memberi kekhasan pada Balikpapan, maka kami sepakat untuk memberi nama "Balikpapan Art Festival"
Balikpapan Art Festival 2008 bertema "Ruang Publik Hijau", sebagai tempat interaksi yang terbuka untuk kegiatan apa saja termasuk seni. Balikpapan Art Festival terbagi atas 3 bagian acara yakni Pertunjukan Seni, Pameran Seni, Penjualan Karya dan Barang Seni, yang ditampilkan selama 3 hari.
Setelah Kampoeng Seni 2006 yang dilaksanakan di Komplek Ruko Bandar Klandasan yang mengusung tema "Kampoeng Seni" dan melibatkan sejumlah seniman Balikpapan untuk berekpresi di sebuah ruang yang kami sebut sebagai kampoeng. Kampoeng Seni mungkin belum layak dikategorikan sebagai sebuah festival seni yang memberi kekhasan pada Balikpapan, maka kami sepakat untuk memberi nama "Balikpapan Art Festival"
Balikpapan Art Festival 2008 bertema "Ruang Publik Hijau", sebagai tempat interaksi yang terbuka untuk kegiatan apa saja termasuk seni. Balikpapan Art Festival terbagi atas 3 bagian acara yakni Pertunjukan Seni, Pameran Seni, Penjualan Karya dan Barang Seni, yang ditampilkan selama 3 hari.
Langganan:
Postingan (Atom)
